Salam Kemerdekaan AILA

0
68

Assalamu’alaikum warahmatulahi wabarakatuh

Salam Kemerdekaan

Keluarga Indonesia yang diberkahi Allah SWT, 75 tahun sudah kita sebagai sebuah bangsa telah menikmati kemerdekaannya. Kemerdekaan yang telah diperjuangkan dengan keringat,darah dan air mata dari para Pahlawan bangsa yang ikhlas berjuang. Dengan satu keyakinan bahwa perjuangan adalah memang milik kita sementara kemerdekaan adalah hak Allah untuk memberikan anugerahNya.

Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.” Adalah kalimat yang penuh perenungan yang tertera pada alinea ketiga dari Pembukan UUD 1945. Jika bukan karena rahmat Allah maka kemerdekaan ini tidak akan dapat kita nikmati. Dan jika tidak ada keinginan yang luhur sebagai sebuah bangsa yang ingin bebas mengatur dan merawat nilai-nilai yang tumbuh dan hidup sebagai sebuah bangsa merdeka, maka kemerdekaan ini belum tentu dapat kita raih.

Dalam bukunya Capita Selecta 2 (M.Natsir,2008) salah seorang founding fathers kita Muhammad Natsir mengingatkan kepada kita semua melalui sebuah kalimat yaitu “Jangan Tangan Berhenti Mendayung, Nanti Arus Membawa Hanyut”. Nasihat ini diberikan pada ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 6 pada tanggal 17 Agustus 1951. Dalam pandangan Natsir, bangsa Indonesia mulai mengalami pergeseran dari idealisme besar sebagai sebuah bangsa. Jika sebelumnya bangsa Indonesia sangat antusias untuk bisa merdeka dengan idealisme yang kuat yang diwarnai nilai-nilai luhur sebagai sebuah bangsa. Nilai luhur seperti keikhlasan, kejujuran, tekad, nasionalisme, harga diri dan berbagai nilai yang menjadi jati diri bangsa saat itu dianggap mulai luntur.

Bagaimana dengan kondisi saat ini setelah 75 tahun kemerdekaan berlalu? Dengan penuh kejujuran kita harus mengakui bahwa banyak nilai yang dianggap jati diri bangsa sebagai mana nilai yang hidup dalam makna-makna yang terkandung dalam Pancasila dan UUD 1945 telah banyak hilang dari denyut nadi bangsa Indonesia. Termasuk juga dari denyut nadi keluarga-keluarga Indonesia. Sebagai unit terkecil dari sebuah bangsa, keluarga menjadi pondasi dasar yang paling mudah untuk kita deteksi apakah nilai-nilai luhur masih hidup di dalamnya atau sedang mengalami sakratul maut.

Tantangan keluarga Indonesia semakin berat, karena saat ini ada arus besar yang sedang berupaya untuk menyebarkan nilai-nilai yang tidak sesuai dengan jati diri bangsa namun dibungkus dengan indah sebagai tawaran solusi permasalahan bangsa. Atas nama kesetaraan, keadilan, kebebasan dan hak asasi manusia, jati diri bangsa dan keluarga Indonesia terseret dalam arus besar global yang sebenarnya banyak yang tidak  berkesesuaian dengan jati diri bangsa.

Maka tidak ada jalan lain, keluarga Indonesia harus tetap sadar bahwa kita sejatinya sedang mengalami penjajahan nilai yang berusaha merusak nilai-nilai luhur dalam keluarga Indonesia. Keluarga Indonesia harus terus mendayung berjuang agar tidak terseret ke arah arus yang menghancurkan biduk keluarga. Hanya dengan Rahmat Allah dan Keinginan yang luhur dari semua keluarga Indonesia, maka kita akan mampu meraih kemerdekaan yang hakiki.

Semoga semua keluarga Indonesia dapat merdeka dalam menanamkan nilai kebaikan bagi keluarganya, agar dapat merdeka dari berbagai penghambaan kecuali penghambaan kepada PenciptaNya

Dirgahayu Republik Indonesia yang ke-75

Merdeka Merdeka Merdeka

Wabillahitaufiq walhidayah

Wassalamu’alaikum warahmatulahi wabarakatuh

AILA INDONESIA

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here