“Ada tantangan-tantangan baru yang kini dihadapi oleh keluarga Indonesia, dan kita harus menemukan solusi-solusi baru demi keselamatan bangsa,”  Imbuh Prof. Euis Sunarti dalam Seminar Kebangsaaan Reformulasi KUHP Delik Kesusilaan dalam Bingkai Nilai-nilai Keindonesiaan yang diselenggarakan oleh Aliansi Cinta Keluarga (AILA) Indonesia pada senin (26/9) di Gedung Nusantara V, Komplek MPR/DPR RI, Senayan, Jakarta. Prof. Euis Sunarti merupakan seorang Guru Besar bidang Ketahanan Keluarga dari Institut Pertanian Bogor (IPB).

Dalam seminar tersebut, Prof. Euis memaparkan ada beberapa faktor yang memengaruhi ketahanan keluarga di Indonesia seperti agama dan ekonomi. Lunturnya nilai-nilai agama di dalam tatanan keluarga Indonesia, memengaruhi faktor lainnya dan menyebabkan timbulnya masalah lain yang dikarenakan abainya masyarakat terhadap nilai-nilai agama. “Lemahnya keluarga Indonesia dan lunturnya nilai-nilai agama menciptakan masyarakat yang permisif, pragmatis, hedonis, dan materialistis. Semua ini adalah kondisi memprihatinkan yang harus menjadi perhatian setiap elemen bangsa,” Ujar beliau.

Moralitas adalah hal pertama yang akan rusak. Kerusakan moral menunjukkan tidak berfungsinya keluarga sebagai unit terkecil dari masyarakat madani. Nilai-nilai agama adalah sebagai pondasi keluarga Indonesia untuk menghadapi permasalahan yang terjadi. Akibat meninggalkan nilai-nilai agama, kita dapat menyaksikan terjadinya kerusakan moral di mana-mana. Ada ayah yang melakukan kekerasan seksual kepada anaknya sendiri, ada ibu yang membunuh anaknya, anak yang membunuh orang tuanya, dan orang tua yang menjual anaknya. Perzinaan merebak di mana-mana, seolah tak tabu lagi. Ini adalah masalah-masalah besar yang harus kita tanggulangi bersama,Papar Guru Besar Bidang Ketahanan Keluarga IPB.

Hal kedua adalah faktor ekonomi. Untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga, para orang tua lebih banyak menghabiskan waktu untuk mencari nafkah. Dengan adanya tekanan ekonomi tersebut, orang tua tidak memiliki banyak waktu untuk menanamkan nilai-nilai agama kepada keluarganya atau cenderung abai. Padahal seharusnya, apabila para orang tua telah memiliki pondasi agama yang kuat ia tidak akan menghabiskan waktu lebih banyak untuk mencari nafkah saja, ia akan tetap menggunakan peranannya untuk menanamkan nilai-nilai agama. “Empat puluh lima persen keluarga Indonesia masih tergolong tidak sejahtera. Hampir seluruh waktu keluarga digunakan untuk mencari nafkah agar dapat memenuhi kebutuhan yang paling dasar,” Ungkap Euis.

Sebagian keluarga akhirnya menyelesaikan berbagai permasalahan tersebut dengan cara bercerai. Perceraian pun menjadi jalan pintas untuk keluar dari masalah yang ada di dalam keluarga. “Kalau diambil angka rata-ratanya, dalam sehari ada 900 permintaan perceraian setiap harinya. Pada tahun 2010, perceraian di Indonesia sudah menempati posisi tertinggi di Asia Pasifik, dan tujuh puluh persennya diajukan oleh pihak perempuan,” tutur beliau. Hal itu tentunya sangat memprihatinkan dan perlu adanya evaluasi terhadap fenomena perceraian tersebut. Terutama terkait peranan masing-masing anggota keluarga. Oleh karena itu, untuk mempertahankan ketahanan keluarga, pentingnya menanamkan nilai-nilai agama di dalam keluarga. Ketahanan keluarga sebagai langkah awal untuk menyelamatkan keluarga Indonesia dari ambang perceraian.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here