Dr. Dinar Dewi Kania
Peneliti Insists & Ketua Bidang Kajian AILA Indonesia

Kontroversi seputar arah dan kebijakan perguruan tinggi terus bermunculan di Indonesia. Isu tentang pembatasan kebebasan berpendapat di kampus sampai liberalisasi moral melalui pendidikan seksual berbasis persetujuan (consent), telah menjadi keprihatinan masyarakat yang masih memegang teguh nilai-nilai Pancasila, terutama sila pertama dan kedua. Mungkin sudah tiba saatnya bangsa Indonesia kembali merenungkan arah dan tujuan pendidikannya, terutama di perguruan tinggi.

Sekularisasi pada dunia pendidikan memang telah mengubah tujuan pendidikan dari yang sifatnya “transenden” menjadi materialistik. Contoh yang paling nyata adalah perubahan “worldview” pada universitas-universitas di Barat yang saat ini juga sedang melanda institusi tinggi kita. Pada mulanya, universitas di Barat, merupakan tempat untuk mengajarkan pengetahuan “universal” dalam rangka mengamanatkan teologi sebagai mahkota dari berbagai ilmu pengetahuan. Menurut Newman, ketika seseorang belajar di universitas, diharapkan kelak ia akan menjadi pribadi setia yang mendalami agama dan berkontribusi kepada masyarakat. Inilah misi perguruan tinggi di Eropa pada abad pertengahan. Tetapi setelah peran gereja mulai hilang dan sekularisme mulai menguasai Eropa, maka misi perguruan tinggi di Eropa pun berubah sesuai dengan pergeseran paradigma masyarakat Eropa terhadap agama. Universitas-universitas di Eropa hanya memiliki tujuan untuk melahirkan para intelektual yang bisa mengisi kebutuhan industri. Misi agama dan melayani masyarakat tenggelam bersama semakin hedonis dan individualisnya masyarakat Eropa.

Gejala ini kemudian menjalar ke dunia Islam, termasuk Indonesia di mana lulusan universitas hanya berorientasi untuk mendapatkan pencapaian materi sebanyak-banyaknya dan melupakan tujuan pendidikan yang hakiki. Menurut Wan Daud, filsafat pendidikan Islam yang lebih memfokuskan kepada individu secara perlahan-lahan berubah bentuk kepada pemenuhan kebutuhan dan minat masyarakat sejak umat Islam di bawah pengaruh pemikiran dan institusi-institusi Barat. Setelah Negara-negara Islam dapat memerdekan diri dari cengkraman kolonialisme, kebijakan pendidikan tidak langsung terlepas dari pengaruh Barat, namun masih menganut pendekatan yang digunakan Barat. Indonesia, Malaysia, Nigeria, Turki, Mesir, menerapkan pendidikan sekular dengan mengadopsi tujuan pendidikan pendangan society-centered ala Barat. Hanya Pakistan yang berani menyatakan bahwa mereka akan mengabadikan ciri khas ke Islaman mereka, walaupun pada tahap implementasi, tidak ada bedanya antara Pakistan dengan negara-negara Islam lainnya. Hal ini menimbulkan banyak permasalahan dalam pendidikan di dunia Islam.

Tujuan pendidikan merupakan masalah sentral dalam pendidikan. Tanpa merumuskan tujuan dan arah pendidikan yang ingin diraih, maka semua usaha yang dilakukan akan berakhir dengan kegagalan atau mungkin tersesat dan salah langkah. Tujuan akan mengarahkan tindakan, oleh karena itu perumusan tujuan pendidikan yang tegas dan jelas, merupakan inti dari seluruh pemikiran pedagogis dan perenungan filosofis. Tujuan pendidikan tidak terlepas dari tujuan hidup, sebab pendidikan bertujuan untuk memelihara kehidupan manusia. Tujuan sendiri dalam bahasa arab dinyatakan dalam ghayat, atau andaf atau maqasid. Sedangkan dalam bahasa Inggris, istilah tujuan dinyatakan dengan goal/ purpose atau objective atau aim. Secara umum istilah-istilah itu mengandung pengertian, yaitu perbuatan yang diarahkan kepada suatu tujuan tertentu, atau arah, maksud yang hendak dicapai melalui upaya atau aktivitas. Dengan tujuan pendidikan yang tepat, maka materi, metoda atau kurikulum yang digunakan, tentunya akan memiliki corak dan isi serta potensialitas yang sesuai dengan cita-cita yang terkandung dalam tujuan tersebut.

Tujuan pendidikan di dunia Islam tidak boleh sama dengan tujuan pendidikan Barat karena adanya perbedaan dalam memahami hakikat, peranan dan tujuan hidup manusia di dunia, yang ternyata sangat berkaitan dengan banyaknya pertanyaan mengenai hakikat sains dan realistas mutlak. Meski tidak semua anak didik di kampus-kampus Indonesia beragama Islam, namun tidak bisa dinafikan bahwa mayoritas penduduknya beragama Islam. Sehingga tujuan perguruan tinggi di Indonesia tidak boleh bertentangan dengan tujuan pendidikan Islam. Tujuan utama pendidikan dalam Islam harus diarahkan untuk membentuk pribadi-pribadi muslim yang sempurna. Sebagaimana diturunkannya Rosulullah sebagai sebaik-baiknya manusia, maka tujuan pendidikan Islam harus mampu membentuk individu-individu muslim yang paham hakikat eksistensinya di dunia ini serta tidak melupakan hari akhir dimana dirinya akan kembali.

Pendidikan dalam Islam selalu menjadikan keberhasilan indvidu dan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat sebagai cita-cita dan tujuan pendidikan yang terpenting. Pendidikan menurut al-Ghazali harus diarahkan kepada realisasi tujuan keagamaan dan akhlak, dengan titik penekanannya pada perolehan keutamaan taqarrub kepada Allah, dan bukan untuk mencari kedudukan yang tinggi atau mendapatkan kemegahan dunia. Sedangkan Ibnu Khaldun melihat pendidikan sebagai usaha transformatif potensialitas (attaqah al-quswa) manusia yang bertujuan mengoptimalkan pertumbuhkan dan perkembangannya. Namun beliau juga memandang pentingnya pendidikan diletakan sebagai bagian integral dari peradaban (al-umran) karena peradaban sendiri adalah isi pendidikan. Pendidikan juga merupakan sarana bagi manusia mengetahui hukum-hukum Allah SWT yang telah diwajibkan atas diri manusia dan menggapai makrifat dengan menjalankan praktek-praktek ibadah.

Semoga anak anak kita tidak lagi diajarkan materi-materi yang bertentangan dengan agama dan moralitas serta dihadapkan pada pilihan-pilihan yang mencederai idealisme dan fitrah kemanusiaannya, ketika menempuh pendidikan tinggi. Sehingga kelak mereka dapat menjadi pribadi-pribadi yang berintegritas dalam keilmuan, keimanan dan moralitas serta mampu berkontribusi pada kemajuan bangsa dan juga peradaban dunia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here