Oleh: Muhammad Aulia Rozaq

Banyak orang tidak mengetahui apa-apa saja yang menjadi asas peradaban, di antaranya keluarga. Unit terkecil yang ada dalam tatanan masyarakat namun banyak luput dari perhatian, ini ditandai dengan banyaknya orang yang berkeluarga namun tidak memahami esensi dari berkeluarga itu sendiri. Akibat buruknya bukan saja menimpa tiap-tiap anggota keluarga, tapi berimbas pada masyarakat dan negara.

Dalam kaitannya dengan peradaban, keluarga tentu memiliki posisi yang  sentral dan pokok. Namun sebelum itu, mari kita pahami makna peradaban terlebih dahulu, agar kita mudah dalam memahami posisi keluarga sebagai asas peradaban.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia V, peradaban didefinisikan sebagai kemajuan (kecerdasan, kebudayaan) lahir batin; hal yang menyangkut sopan santun, budi bahasa, dan kebudayaan suatu bangsa (KBBI V). Kata peradaban ini sangat kental dengan makna adab, sebab sejatinya peradaban dibangun di atas adab, sehingga bisa dikatakan bahwa berperadaban maksudnya adalah beradab. Dalam kamus lain, misalnya merriam-webster, civilization (peradaban) didefinisikan sebagai 1) a relatively high level of cultural and technological development. [tingkat perkembangan budaya dan teknologi yang relatif tinggi], 2) the process of becoming civilized. [proses menjadi beradab], 3) refinement of thought, manners, or taste. [penyempurnaan pikiran, tata krama, atau rasa]. (https://www.merriam-webster.com/dictionary/civilization). Hampir serupa dengan peradaban yang berasal dari kata adab, civilization pun demikian, memiliki akar kata dari civilitas yang bermakna warga negara, yang mana dalam penggunaannya, kata civilitas/civil ini dimaknai sebagai civilized yang berarti beradab. Hal ini diamini oleh Pim Den Boer dalam artikelnya yang berjudul “Civilization: Comparing Concepts and Identities”, di dalamnya ia menyatakan “In the sixteenth century it was most commonly understood as good manners, courtesy, gentility.” [Pada abad keenam belas kata civilized umumnya dipahami sebagai tata krama yang baik, kesopan santunan, dan budi bahasa (tingkah laku yang sopan)]. (Pim den Boer, “Civilization: Comparing Concepts and Identities”, Contributions 1 (1) : 51 – 62)). Oleh sebab itu, dalam lintasan sejarah, konsep peradaban memiliki keterhubungan yang kuat dengan adab, karena keduanya adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Sehingga ketika berbicara peradaban maka secara otomatis berbicara soal adab.

Bahkan lebih dari itu, Syed Muhammad Naquib al-Attas dalam bukunya Islam and Secularism menyatakan bahwa kata peradaban itu sendiri (tamaddun), memiliki keterikatan yang kuat dengan kata din yang bermakna agama. Beliau mengatakan “it is, conceptually at least, connected intimately with another verb maddana which means to build or found cities; to civilize, to refine and to humanize. from which is derived another term tammadun meaning civilization and refinement in social culture” [itu, setidaknya secara konseptual, terkait erat dengan kata kerja lain ‘maddana’ yang berarti membangun atau menemukan kota, memperadabkan, meningkatkan, dan memanusiakan. Dari situlah muncul istilah lain tammadun yang berarti peradaban dan perbaikan dalam sosial budaya]. (S.M.N Al-Attas, Islam and Secularism, (Kuala Lumpur: ISTAC, 1993))

Dengan demikian, konsep yang beliau ungkapkan lebih komprehensif dan sempurna, bahwa sejatinya membangun peradaban adalah dengan memahami dan menjalankan din (agama Islam) dengan baik dan benar.

Berkaitan dengan peradaban, sebagaimana disinggung sebelumnya, bahwa keluarga memiliki posisi yang utama dalam membentuk peradaban yang maju. Dalam kitab Adab al-Islam fii Nidzom al-Usrah, diterangkan bahwa keluarga dalam peradaban-peradaban sebelum Islam adalah keluarga yang berantakan, hubungan keluarga saling terputus, antar kerabat tidak saling menolong, dalam keluarga banyak tertanam kebencian dan permusuhan, bahkan tidak dikenal kemuliaan bagi perempuan. Misalnya dalam peradaban Yunani, tepatnya Athena, di mana perempuan tak ubahnya seperti barang yang rendah sehingga dulu perempuan banyak diperjual belikan di pasar. Begitu pun di Eropa,  dulu perempuan tidaklah memiliki hak-hak terhadap kepemilikan, bahkan di negeri Arab sebelum Islam, perempuan tidaklah dipandang mulia, istri-istri dijadikan warisan, budak-budak perempuan dilacurkan, dan anak-anak perempuan dianggap beban bahkan puncaknya dikubur hidup-hidup tanpa belas kasihan. (lihat, Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki al-Hasani, Adab al-Islam fii Nidzom al-Usrah, (Mekkah: Maktabah Malik Fahd al-Wathaniyyah, 2001). Akibatnya, peradaban mereka adalah peradaban yang rusak, bahkan tidaklah layak dinamai sebagai peradaban.

Berbeda dengan Islam, keluarga dalam Islam dipandang sebagai institusi yang mulia dan memiliki keutamaan yang sangat banyak. Oleh karena itu, dalam Al-Qur’an dan hadits ada banyak sekali penjelasan terkait dengan peraturan dan hukum-hukum keluarga, baik yang dijelaskan secara umum atau merinci. Mulai dari pra-pernikahan, memilih pasangan, aturan-aturan menikah, bergaul dan berinteraksi antara suami-istri, pendidikan anak, sampai pada perincian bagaimana keluarga berinteraksi dengan masyarakat. Mengapa keluarga begitu diperhatikan dalam Islam? Sebab keluarga memiliki pengaruh yang sangat besar dalam membentuk masyarakat yang maju, yang mana dengan itulah peradaban dapat dibangun.

Dalam buku The Story of Civilization, Will Durant dan Ariel Durant menjelaskan bahwa setidaknya ada beberapa elemen yang membentuk peradaban. “Civilization is social order promoting cultural creation. Four elements constitute it: economic provision, political organization, moral traditions, and the pursuit of knowledge and the arts.” [Peradaban adalah tatanan sosial yang mempromosikan penciptaan budaya. Empat elemen yang membentuknya: penyediaan ekonomi, organisasi politik, tradisi moral, dan pencarian Ilmu dan seni]. (Will Durant dan Ariel Durant, The Story of Civilization, I. Our Oriental Heritage, (New York: Simon and Schuster: 1954)). Keempat elemen tersebut dapat kita bentuk dalam keluarga. Karena setiap orang pasti berkeluarga, entah itu sebagai anak, ayah, ataupun ibu, dan sebagian besar manusia menghabiskan waktunya dengan keluarga. Sehingga keluarga memiliki andil yang sangat besar dalam membentuk kepribadian seseorang dan karakter sebuah masyarakat dan komunitas. Maka dari itu, aspek ekonomi, organisasi, moral, dan pencarian ilmu dan seni termanifestasikan dalam keluarga.

Dalam aspek ekonomi misalnya, dalam Islam seorang ayah memiliki kewajiban menafkahi keluarga dengan uang yang halal, sementara ibu memiliki wewenang untuk mengatur dan memperhitungkan kebutuhan keluarga menggunakan nafkah tadi. Meliputi kebutuhan pendidikan, barang-barang yang diperlukan, persediaan makanan, persediaan pakaian, dan hal-hal lainnya yang menunjang kesejahteraan keluarga. Dengan mekanisme yang baik, maka ekonomi keluarga akan baik, demikian pula dalam bermasyarakat dan bernegara, baiknya ekonomi suatu negara tidak pernah lepas dari peran tiap orang yang mengaturnya, dan orang tersebut tidak pernah lepas dari pengaruh nilai-nilai yang baik dalam keluarganya.

Adapun moral dan ilmu keduanya adalah dua hal yang tidak boleh dipisahkan, Islam mengajarkan agar keduanya dicapai dan diterapkan ‘ta’alum al-adab qobla ta’alum al-‘ilm’ [mempelajari adab sebelum ilmu], dengan adab seorang akan bermoral, berakhlak baik, dan beretika. Dengan ilmu seorang akan sempurna, berakal, dan bermanfaat bagi manusia. Oleh karenanya, dalam berkeluarga, ayah dan ibu seminimal-minalnya harus paham bagaimana mendidik anak dengan baik, menanamkan adab dengan benar, dan membekali ilmu yang bermanfaat, begitu pun dengan anak, ia memiliki hak untuk diajari sekaligus memiliki kewajiban untuk belajar, dalam hal ini, tentunya pendidikan pertama adalah pendidikan dalam keluarga. Karena berkualitasnya pendidikan dalam keluarga akan sangat berpengaruh dengan kualitas pendidikan dalam sebuah peradaban, andai kata dalam sebuah negara ada 1000 keluarga dan setiap keluarga itu memiliki pendidikan yang baik, maka negara tersebut setidaknya akan memiliki capaian yang baik dalam pendidikan.

Juga tak kalah penting bahwa penanaman adab, pembekalan ilmu, dan pengaturan ekonomi tidak akan pernah terlaksana kecuali dengan pengorganisasian yang baik. Dengan demikian, semua elemen yang sudah disebutkan tadi saling bersangkut paut, jika terpenuhi semuanya, maka akan terwujud keharmonisan dan keteraturan dalam keluarga dan menjadi modal yang penting dalam pembentukan sebuah peradaban.

Masih berkaitan dengan keluarga, menjadikan keluarga yang beradab adalah dengan mengajari tiap anggota keluarga untuk berbuat benar. Dalam ungkapan Syed Muhammad Naquib al-Attas, “adab is right action that springs from self-discipline founded upon knowledge whose source is wisdom” [Adab adalah perbuatan benar yang muncul dari disiplin diri yang didasarkan pada ilmu  yang sumbernya adalah kebijaksanaan ‘hikmah’]. (S.M.N Al-Attas, Prolegomena to the Metaphysics of Islam, (Kuala Lumpur: ISTAC, 1995)). Untuk dapat berbuat benar, kita wajib membekali diri dan keluarga dengan ilmu yang benar pula dan ilmu yang benar itu datang dari bagaimana kita beragama. Maka beragamalah dengan benar dan tanam nilai-nilai agama dengan baik, sehingga keluarga menjadi institusi yang kuat dan bermanfaat baik manusia.

Oleh karena itu, peradaban yang maju dimulai dari keluarga yang beradab. Merencanakan dan membangun keluarga sama dengan membangun peradaban. Dengan demikian, sudah semestinya kita memperhatikan keluarga dan dengan siapa kita akan berkeluarga.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here