Oleh: Dr. Henri Shalahuddin

Sekitar tahun 2014 silam, ketika di Bangkok ada seorang teman yang meminta pendapat saya tentang pendidikan seksual untuk anaknya yang sedang belajar di sebuah sekolah internasional. Anaknya yang tengah duduk di bangku SMA ini dipersilahkan mengikuti pelajaran pendidikan seksual jika orang tuanya mengizinkan.

Kepadanya saya katakan, menurut saya sebaiknya tidak perlu diizinkan. Sebab feeling saya tentang pendidikan seksual di sekolah semisal ini hanya mengajarkan hal-hal yang bersifat teknis dan proses kegiatan seksual. Jadi siswa hanya dikenalkan fungsi organ reproduksi, dan akibat yang bisa terjadi pasca melakukan aktivitas seksual, termasuk apa yang dilakukan jika ”mau enaknya tapi nggak mau anaknya”. Saya tidak yakin di sekolah seperti ini gurunya akan mengajarkan juga hal-hal yang terkait dengan nilai dan norma. Misalnya hubungan seksual di luar nikah, larangan seks sejenis, dll. Sebab sekolah yang menganut sistem netral agama, pastinya juga tidak memprioritaskan hal-hal yang bersifat spiritual keagamaan yang memahamkan inti kemanusiaan seorang manusia.

Singkatnya, teman saya akhirnya tidak mengizinkan anaknya mengikuti pelajaran tersebut. Beberapa minggu kemudian ia menemukan sekolah internasional Islam yang cukup baik dan memindahkan anaknya ke sekolah tersebut. Saya pribadi memuji keputusannya itu. Sebab anak adalah aset kita terbesar. Dari kesalehan dan keilmuan mereka, amal jariyah tidak berhenti mengalir untuk orang tuanya di saat nafas keduanya telah terhenti dan berkalang tanah.

Pendidikan seksual gaya bebas merupakan salah satu faktor utama pengrusak generasi muda. Anak-anak kita akan tumbuh kembang menjadi “anak zamannya” yang semakin jauh dari nilai-nilai yang dipegang teguh orang tuanya. Apa dan bagaimana sebenarnya paham seks bebas itu? Dan apa hubungannya dengan feminis radikal? Tulisan ini mencoba menguraikannya secara singkat.

Tidak seperti feminisme liberal dan feminisme Marxis/sosialis, feminisme radikal tidak dibangun dari arus pemikiran laki-laki (malestream). Ia menawarkan satu tantangan hakiki dan penolakan orientasi yang liberal bahwa ruang publik diperuntukkan bagi laki-laki saja. (lihat: What is Feminism?: An Introduction to Feminist Theory, 53)

Feminisme radikal berpendapat bahwa feminisme liberal tidak melakukan penghapusan secara menyeluruh terhadap penindasan yang menimpa perempuan yang disebabkan oleh sistem patriarki. Patriarki sebagai sistem yang ditandai oleh kekuasaan, dominasi, hirarkhi dan kompetisi, menurut feminisme radikal tidak bisa dipertahankan, tetapi harus dicabut hingga akar dan cabang-cabangnya. Oleh sebab itu, semua lembaga sosial dan kultural yang meliputi unsur-unsur keluarga, agama dan pendidikan harus disterilkan dari pengaruh sistem patriarki. Jadi bukan saja struktur hukum dan politik yang patriarki yang harus dicabut hingga akar umbinya, sebagaimana yang menjadi fokus feminisme liberal, tetapi juga lembaga-lembaga sosial dan kultural. (Feminist Thought: A More Comprehensive Introduction, 2)

Konvensi nasional di Chicago pada tahun 1967 menghasilkan keputusan untuk mendirikan organisasi Women´s Liberation Workshop. Organisasi ini menyuarakan bahwa hubungan peranan perempuan dan laki-laki dalam masyarakat kapitalis khususnya di Amerika Serikat tidak lebih seperti hubungan pihak yang dijajah dan penjajah. Sejarah kemunculan Women’s Liberation Movement merupakan gambaran peningkatan pesat bagi gerakan feminisme. Pergerakan ini kemudian terpecah menjadi dua bagian, yaitu feminis sosialis dan feminis radikal. (Eve Setch, “The Face of Metropolitan Feminism: The London Women’s Liberation Workshop, 1969–79”)

Hubungan peranan wanita dan laki-laki dalam masyarakat kapitalis yang diibaratkan oleh kelompok Women’s Liberation Movement seperti hubungan pihak yang dijajah dan penjajah sejalan dengan pandangan Jacquelyn Dowd Hall, Stephanie McCurry, Mary Beth Norton, dan Jennifer Morgan. Jacquelyn Dowd Hall menyimpulkan bahwa peranan gender adalah identik dengan hubungan kekuasaan dalam rezim hierarki. Sedangkan Stephanie McCurry berpendapat bahwa dalam aktivitas politik perbudakan seringkali dianalogikan dengan subordinasi perempuan, dan kemudian ia sepakat untuk menganalogikan pernikahan dengan perbudakan. Bahasa gender yang menumpukan kepada perbedaan jenis kelamin digalakkan untuk membangun dan mempertahankan hierarkhi jenis kelamin, kelas dan ras. Pendapat ini juga didukung oleh Mary Beth Norton. (Joanne Meyerowitz, “A History of Gender”, 1349)

Perspektif feminisme radikal menekankan bahwa kontrol laki-laki terhadap perempuan adalah bentuk penindasan yang paling mendasar. Perempuan sebagai suatu kelompok adalah tertindas, bukan karena jenis kelamin biologi atau kelas sosial mereka, tetapi oleh laki-laki sebagai suatu komunitas. Menurut feminis radikal, penindasan seksis adalah satu perkara dimana semua wanita mempunyai persamaan. Teori feminis radikal telah mendorong banyak “penelitian” tentang kekerasan terhadap perempuan dan seksualitas, mencari pemahaman tentang kekuasaan laki-laki dan dampaknya terhadap wanita. (Women and Gender: A Feminist Psychology, 7)

Trend feminisme radikal yang muncul sejak pertengahan tahun 1970-an ini menawarkan ideologi “perjuangan kemerdekaan wanita”. Pada awalnya, aliran ini muncul di Barat sebagai reaksi terhadap budaya seksisme atau dominasi sosial berbasis jenis kelamin pada tahun 1960-an, khususnya untuk melawan kekerasan seksual dan industri pornografi. Paham ini pada intinya mengajarkan bahwa penindasan laki-laki terhadap perempuan adalah fakta dalam sistem masyarakat hingga kini. Oleh karena itu, arah pergerakan aliran ini sesuai dengan namanya yang “radikal”. Penindasan terhadap perempuan menurut paham feminis radikal terjadi karena sistem patriarki. Tubuh perempuan merupakan objek utama penindasan oleh kekuasaan laki-laki.

Maka feminis radikal lebih memfokuskan kepada isu-isu tubuh perempuan, hak-hak reproduksi, seksualitas (termasuk lesbianisme), seksisme, relasi kekuasaan wanita dan laki-laki, dan dikotomi antara ruang pribadi dan publik. Feminis radikal sangat aktif dalam mensosialisasikan isu pemberdayaan wanita, baik secara individu maupun kolektif. Kelompok “Redstockings” yang merupakan bagian dari feminis radikal, memunculkan “The BITCH Manifesto”. Walaupun kelompok ini tidak berumur panjang, tetapi banyak meninggalkan ungkapan-ungkapan yang sangat masyhur di Amerika Serikat, misalnya: “Sisterhood is powerful,” “The personal is political,” “The politics of housework,” dan lain-lain. (Gender Communication Theories and Analyses: From Silence to Performance, 2006: 9

Dalam sejarah perkembangannya, feminis radikal terpecah menjadi dua bagian, yaitu: feminis radikal-libertarian dan feminis radikal-kultural. Feminis radikal libertarian memandang bahwa solusi terhadap masalah gender harus dimulai dengan mengizinkan setiap orang untuk menjadi androgyny (bisexuality), sehingga mereka bisa mengungkapkan kualitas maskulin dan femininnya dalam satu individu. Yaitu dengan mengharuskan laki-laki memamerkan dimensi femininnya, dan bagi wanita harus menunjukkan dimensi maskulinnya. Pembagian dua jenis kelamin kedalam laki-laki dan perempuan dianggap menyesatkan, karena manusia dipaksa memilih untuk menjadi laki-laki atau perempuan saja. Akibatnya, manusia tidak bisa menjadi diri yang utuh dan integral. (Feminist Thought: A More Comprehensive Introduction, 2)

Manakala feminis radikal-kultural menolak pandangan kalangan radikal-libertarian. Feminis radikal-kultural berpendapat bahwa yang menjadi masalah justru menilai kualitas feminin dengan nilai yang rendah, misalnya; kelembutan, kesederhanaan, sifat mendukung, empati, kepedulian, kasih sayang, sifat pengasuh, sifat intuitif, sensivitas dan ketidakegoisan. Sedangkan kualitas maskulin dipandang dengan nilai yang tinggi, seperti ketegasan, keagresifan, kekerasan, rasionalitas dan kemampuan untuk berfikir logis, abstrak dan analitis, serta kemampuan mengawal emosi.

Feminis radikal-kultural juga tidak sepakat dengan pendapat yang menolak “teori sifat alami”. Mereka berpendapat bahwa kebebasan wanita akan tercapai jika mereka mampu menolak diri femininnya yang palsu dan berpaling kepada diri wanita yang sejati. Diri wanita yang sejati yaitu sifat-sifat kesejatian wanita yang belum dipengaruhi oleh konstruksi sosial budaya patriarkhi. Ini karena mereka beranggapan bahwa sifat-sifat femininitas wanita yang lembut, empatik, dan lain-lain dibentuk oleh budaya yang dicipta oleh laki-laki. (Ibid, 3)

Feminis radikal-libertarian berpendapat bahwa tidak ada pengalaman seksual yang dianggap sebagai jenis pengalaman seksual yang terbaik bagi wanita. Setiap wanita didesak untuk melakukan percobaan secara seksual, baik dengan dirinya sendiri, dengan wanita lain maupun dengan laki-laki mengikuti kehendak dirinya. Akan tetapi feminis radikal-kultural tidak sepakat dengan pendapat ini. Sebaliknya, mereka menekankan bahwa melalui pornografi, prostitusi, pelecehan seksual, pemerkosaan dan kekerasan terhadap wanita, laki-laki bisa mengontrol seksualitas wanita untuk meraih kenikmatan mereka.

Oleh karena itu, untuk menjadi bebas, wanita harus melepaskan diri dari pemisahan yang dibangun oleh heteroseksualitas, dan mencipta seksualitas wanita yang eksklusif melalui selibat, otoerotisisme atau lesbianisme. Dengan begitu wanita tidak lagi perlu bergantung kepada laki-laki untuk memenuhi hasrat seksualnya. Menurut Ann Ferguson, feminis radikal-libertarian biasanya adalah seorang heteroseksual atau lesbian, dan mempunyai pandangan seperti berikut:

Praktik heteroseksual dipahami sebagai penindasan terhadap pelaku minoritas seksual seperti lesbian. menolak analisis teoritik, pemisahan hukum, penilaian moral pihak manapun yang memandang negatif minoritas seksual. merampas kembali kontrol terhadap seksualitas wanita dengan cara mempraktikkan segala orientasi seksual yang bisa memberikan kenikmatan dan kepuasan. hubungan seksual yang ideal dan setara yaitu yang saling memberi persetujuan untuk memaksimalkan kepuasan seksual dengan cara apa pun yang dipilihnya.” (ibid, 65-6)

Sedangkan pandangan feminis radikal-kultural tentang seksualitas menurut Ann Ferguson adalah sebagai berikut:

Heteroseksual diyakini sebagai sumber kekerasan seksual terhadap perempuan, dan diteorikan sebagai objek seksual, dimana laki-laki sebagai subjek atau tuan, dan perempuan sebagai objek atau budak. menolak segala praktik seksual yang mendukung kekerasan seksual laki-laki. lebih mengembangkan perhatian terhadap prioritas seksualitas perempuan berbanding laki-laki yang sekedar mencari kenikmatan seksual perempuan. Hubungan seksual yang ideal dan setara adalah yang berdasarkan persetujuan untuk saling terlibat secara emosi, dan tidak berperan sebagaimana tuan dan hamba sahaya.” (ibid, 66)

Dalam isu kesehatan reproduksi, feminis radikal-libertarian mengklaim bahwa menjadi ibu biologis akan menguras tenaga perempuan, baik secara fisik maupun psikologis. Menurut mereka, wanita harus bebas mempergunakan teknologi untuk mencegah dan menghentikan reproduksi sesuai kemahuannya, tanpa campur tangan laki-laki. Atau sebaliknya, jika mereka menginginkan mempunyai anak, juga harus berdasarkan kemauannya. Baik dalam rahimnya sendiri, ataupun dalam rahim perempuan lain.

Bahkan, lebih jauh lagi kaum feminis radikal-libertarian ini berkhayal suatu hari nanti bisa melakukan ektogenesis, yaitu kehamilan di luar tubuh dengan mempergunakan plasenta artifisial, sehingga bisa menggantikan sepenuhnya proses alami kehamilan. Tetapi feminis radikal-kultural menolak pendapat ini, sebaliknya mereka mengklaim bahwa menjadi ibu secara biologis adalah sumber kekuatan perempuan yang sempurna. Sebab perkembangan spisies manusia ditentukan oleh perempuan, apakah mau dilanjutkan atau dihentikan. Oleh karena itu, perempuan harus melindungi dan merayakan kekuatannya ini. Sebab tanpa kekuatannya tersebut, laki-laki semakin tidak menghargai dan melihat manfaat perempuan. (ibid, 3-4)

Di antara kunci utama membebaskan perempuan dari segala bentuk diskriminasi dan penindasan yang dilakukan laki-laki adalah mendorong perempuan untuk memiliki dan mengelola tubuhnya secara mutlak tanpa intervensi agama dan negara. Oleh karena itu, kedaulatan tubuh perempuan adalah isu penting yang dimainkan oleh feminis radikal dan aliran feminis lainnya. Maka dari cara pandang seperti ini, dikampanyekan hubungan seks gaya bebas, baik sesama jenis, beda agama, maupun tanpa ikatan pernikahan. Intinya, perempuan sebagai pemiliki tubuh yang sah, berhak secara mutlak mengelola dan memainkan organ tubuhnya sesuai keinginannya tanpa harus diintervensi oleh hal-hal dari luar si pemilik tubuh. Doktrin semacam ini akan semakin merusak generasi muda ketika disusupkan kedalam sistem pendidikan. Semoga para orang tua selalu sigap membersamai pendidikan sang buah hati, sehingga makar para penyusup merusak generasi bangsa dengan agenda pendidikan seksualitas berbasis sexual consent segera digagalkan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here