Feminisme berasal dari bahasa latin “femina” yang mempunyai arti tentang perempuan. (Soenarjati Djajanegara, Kritik Sastra Feminis: Sebuah Pengantar, hlm. 35). Istilah feminis pertama kali digunakan pada tahun 1837 oleh Charles Fourier, seorang filsuf sosialis dari Prancis. Sebelum digunakan istilah feminis, masyarakat Eropa pada waktu itu secara umum menyebutnya dengan womanism, the woman movement, atau woman questions. Sedangkan Hebertine Auclert dari Prancis dianggap sebagai orang pertama yang menggunakan istilah feminisme dalam perjuangan pembebasan wanita dari penindasan. (Loreen Maseno & Susan M. Kilonzo, Engendering Development Demystifying Patriarchy and Tts Effects on Women in Rural Kenya, hlm. 46).

Ide yang diusung oleh Charles Fourier adalah transformasi perempuan oleh masyarakat berdasarkan saling ketergantungan dan kerjasama, bukan pada kompetisi mencari keuntungan. pemikiran ini mempengaruhi banyak perempuan dan mengombinasikan antara emansipasi pribadi dengan emansipasi sosial. Pergerakan yang awalnya berpusat di Eropa ini, kemudian berpindah ke Amerika dan berkembang pesat di sana, terutama sejak John Stuart Mill menulis artikel The Subjection of Women pada tahun 1869. (Alfian Rokhmansyah, Pengantar Gender dan Feminisme, Pemahaman Awal Kritik Sastra Feminisme hlm. 38).

Philip J. Adler dalam bukunya World Civilization, menggambarkan bagaimana Barat memandang dan memperlakukan kaum wanita. Sampai abad ke-17, wanita di Eropa masih dianggap sebagai jelmaan setan atau alat bagi setan untuk menggoda manusia. Dalam buku A History of Western Society juga dinyatakan bahwa sejak masa lahirnya tokoh semisal Plato, Aristoteles, diikuti St. Agustinus, Thomas Aquinas hingga John Locke, Rousseau dan Nietzhce di awal abad Modern, citra dan kedudukan perempuan tidak pernah dianggap setara dengan laki-laki. Para penguasa gereja pun dengan tegasnya menyebut wanita sebagai pembawa sial, sumber malapetaka dan biang keladi kejatuhan adam dari surga (McKay, John P, Bennet D. Hill and John Buckler, A History of Western Society, hlm. 437).

Awal budaya tersebut dapat ditelusuri jejaknya sejak masa Yunani kuno, Romawi, hingga abad modern. Di masa Yunani, aturan hukum dan undang-undang menetapkan perempuan sepenuhnya milik walinya, artinya sebelum menikah ia milik ayahnya, saudara laki-lakinya atau yang dipercaya menjadi walinya, sedangkan setelah menikah ia menjadi milik suaminya. Perempuan tidak memiliki hak apapun atas dirinya. Di masa Romawi, perempuan dianggap makhluk yang kotor, irasional dan dianggap seperti anak kecil. Bahkan mereka bisa kapan saja diperjualbelikan oleh walinya kepada siapa pun, mempermainkan, menyakiti, bahkan membunuhnya bila perlu.

Dalam ajaran Yahudi, perempuan dianggap pembantu rumah dan tidak mendapatkan hak waris bila suaminya meninggal. Seorang ayah berhak menjual putrinya jika ia tidak mempunyai anak laki-laki. Perempuan juga dianggap terlaknat karena membuat Adam terusir dari surga. Selanjutnya dalam ajaran Nasrani, perempuan dianggap senjata iblis dalam upayanya menyesatkan manusia. Pada abad ke-5 M, diadakan konsili yang membahas apakah perempuan itu makhluk yang memiliki roh atau tidak, dengan akhir kesimpulan tidak memiliki roh. Pada abad ke-6 M, dibahas apakah perempuan itu manusia atau bukan, dengan jawaban perempuan adalah makhluk yang diciptakan untuk melayani laki-laki. (Mutawali al-Sya’rawi, al Mar’ah fi al-Qur’an Karim, hlm. 8-9).

Diskriminasi terhadap perempuan juga mendapatkan justifikasi dari Bible yang mengandung ayat-ayat bernuansa pelecehan terhadap kaum perempuan. Beberapa contoh dari ayat tersebut seperti, kejahatan laki-laki lebih baik daripada kebajikan perempuan, dan perempuanlah yang mendatangkan malu dan nista (Sirakh, 42:14); Setiap keburukan hanya kecil dibandingkan dengan keburukan perempuan, mudah-mudahan ia ditimpa nasib orang berdosa (Sirakh, 25:19); Permulaan dosa dari perempuan dan karena dialah kita sekalian mesti mati (Sirakh, 25:24); Wujud kutukan Tuhan terhadap perempuan adalah kesengsaraan saat mengandung, kesakitan ketika melahirkan dan akan selalu ditindas laki-laki karena mewarisi dosa Hawa (Kejadian 3:16); Anak perempuan tidak mendapatkan waris kecuali jika tidak ada pewaris lagi dari laki-laki (Bilangan, 27:28); Seorang istri tidak punya hak waris dari suaminya (Bilangan, 27:8-11); Perempuan tidak boleh mengajar (I Timotius, 2:12).

Para perempuan di Barat merasa tidak puas dengan ayat-ayat Bible ini, karena landasan teologi mereka hanya ditafsirkan oleh laki-laki. Misalnya di antara mereka ada yang berkata, “Kita (para perempuan) perlu mengalahkan rasa takut untuk mengembangkan teologi kita sendiri, kita perlu menafsirkan dan mengatur secara sistematis pengalaman-pengalaman kita sendiri di dalam masyarakat Kristen di mana kita hidup.” (Zakiyuddin Baidhawy (ed.), Wacana Teologi Feminis, hal. 63). Sarah Grimke menyatakan bahwa penafsiran kitab Bible secara sengaja dibiaskan terhadap kaum perempuan guna mempertahankan posisi subordinatif (sekunder) mereka (laki-laki). (Phyllis Trible, et.al, Feminist Approach to the Bible, hlm. 7 dan 47).

Berangkat dari ketidakpuasaan kaum perempuan, kemudian mereka mencoba untuk melakukan rekonstruksi dan reinterpretasi terhadap ayat-ayat Bible yang diklaim misoginis. Letty M. Russel menjelaskan tentang metode-metode dalam reinterpretasi terhadap teks (dalam hal ini adalah Bible), metode tersebut antara lain; a) Mencari teks yang memihak perempuan untuk menentang teks-teks terkenal yang digunakan untuk menindas perempuan; b) Menyelidiki kitab suci secara umum untuk menemukan perspektif teologis yang mengkritik patriarki; c) Menyelidiki teks historisitas perempuan kuno yang hidup dalam kebudayaan patriarki untuk ditemukan sebab budaya patriarki tersebut dilakukan. (Lihat Letty M. Russel, Perempuan dan Tafsir Kitab Suci terj. Adji A. Sutama dan Oloan Tumpobolon, hlm. 52).

bersambung…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here