Sungguh sulit saat ini menemukan wanita generasi saya yang meyakini

kodratnya sebagai ibu tanpa ambisi karir

(Danielle Crittenden)

Tiar Anwar Bachtiar

Mungkin kita juga akan berpikir sama dengan keluhan Crittenden di atas soal wanita Indonesia dua dekade terakhir ini. Agak sulit kita temukan wanita muda yang benar-benar hanya ingin menjadi ibu rumah tangga, mengurus anak dan keluarga. Gelombang gerakan wanita sejak dekade 70-an benar-benar efektif mengubah cara berpikir wanita hampir di seluruh belahan dunia, tak terkecuali Indonesia. Gerakan dengan jargon “emansipasi wanita” itu telah berhasil membuka kran ‘kebebasan’ bagi para wanita. Semua jalan telah terbuka bagi kaum hawa untuk melakukan apa saja, dari mandiri secara ekonomi, melakukan pekerjaan apa saja, sampai mengekspresikan hasrat seksual.

Pikiran tentang peran ‘tradisional’ wanita sebagai ibu rumah tangga, pengurus anak, dan pengelola rumah tangga (peran domestik, home maker) sudah hampir pupus dalam benak para wanita modern saat ini. Pengaruh gerakan feminisme itu telah berhasil membuat membuat banyak wanita modern percaya bahwa “betapa terpuruknya mereka kalau hanya menjadi ibu rumah tangga, hanya mengikuti suami, dan hanya menjadi ibu bagi anak-anaknya”. Banyak wanita modern yang percaya bahwa peran domestik yang dijalankannya adalah cerminan dari keterpurukan, ketertindasan, dan subordinasi mereka dalam budaya patriarki yang memang menempatkan mereka menjadi demikian.

Tentu saja sejalan dengan itu, mereka merasa lebih berarti ketika mereka dapat menjadi “wanita karir”. Dalam benak setiap anak wanita yang bersekolah selalu tertanam pikiran tentang pekerjaan apa yang mesti mereka tekuni selepas lulus. Kesempatan bersekolah yang mereka dapatkan membuat ia harus berpikir keras menjadi “wanita karir”. Ketika angan-angannya tak terpenuhi, baik karena kesempatan kerja yang kecil atau karena hal lain, hingga ia harus puas hanya menjadi “ibu rumah tangga” muncul kegalauan dan rasa rendah diri di hadapan wanita-wanita lain yang berhasil menempuh karirnya.

Ratna Megawangi dalam pengantarnya untuk buku Crittenden, Wanita Salah Langkah? Menggugat Mitos-Mitos Kebebasan Wanita Modern (Qanita, 2002), menceritakan keluhan seorang ibu tentang adik perempuannya yang sedang berada di ambang perceraian. Awal permasalahan adalah ketika adiknya mempunyai anak pertama. Sebagai wanita karir, ia mengalami kesulitan mencari pengasuh yang cocok untuk menjaga bayinya. Akhirnya, dengan terpaksa ia berhenti bekerja dan menjadi ibu rumah tangga full time untuk mengasuh anak. Ia mengalami stres berat ketika harus tinggal di rumah karena merasa bosan dan mempunyai perasaan tidak berharga. Namun, ia tidak bisa lepas dari kondisi tersebut karena kelahiran anaknya terus berlanjut hingga tiga orang. Tampaknya ia tidak bisa menerima keadaan ini, yang membuat kondisi stresnya kian parah. Hal ini membuat hubungannya dengan suami dan anak-anak terganggu, hingga akhirnya perkawinan mereka tidak dapat dipertahankan lagi.

Seperti itulah menjadi wanita modern saat ini. Hanya menjadi ibu rumah tangga bukan pilihan yang membanggakan. Masalahnya kemudian apakah memang keadaan seperti itu yang diinginkan? Apakah benar menjadi wanita karir akan selalu membawa kebahagiaan dan mampu menciptakan relasi sosial yang lebih baik dibandingkan saat peran tradisional wanita lebih dominan, hingga hanya menjadi ibu rumah tangga dianggap sesuatu yang inferior? Ternyata tidak. Di sepanjang bukunya di atas Crittenden membeberkan segudang bukti bahwa stereotipe wanita modern seperti itu justru menghadirkan berbagai problem baru yang pelik, terutama konflik batin wanita dan perpecahan keluarga.

Konflik batin muncul ketika peran “kodrati” (nature) wanita “dilecehkan” oleh opini masyarakat modern, padahal pada saat yang sama wanita tidak pernah dapat terlepas dari peran itu. Contohnya hamil dan melahirkan anak. Peran ini sama sekali tidak dapat dilakukan oleh pria. Ini menunjukan bahwa wanita memang telah ‘dikodratkan’ untuk hamil dan melahirkan. Tentu kalau dilihat hanya dari sisi lahiriah, hamil dan melahirkan tidak harus selalu menghambat wanita mengejar karirnya. Selama hamil, wanita masih bisa bekerja. Selepas melahirkan, anak-anak dapat dititipkan pada pembantu atau pada tempat-tempat penitipan anak. Seperti itu pulalah jalan pikiran para penyokong gerakan feminisme terhadap kodrat wanita. Rasional memang, tapi jalan pikiran seperti itu melupakan aspek non-fisik yang tak dapat tergantikan oleh apa pun, yaitu cinta ibu. Seorang anak akan tumbuh normal secara mental bila kasih sayang ibu ikut tumbuh bersamanya. Bagiamana mungkin kasih sayang ibu dapat menyertai anaknya, terumana saat masa pertumbuhan, bila ibu tidak pernah ada di rumah, tidak pernah bertemu secara intens, tidak pernah berkomunikasi dengan bahasa hati, dan tidak pernah betul-betul mencurahkan perhatian pada anaknya akibat sibuk bekerja.

Dari sanalah muncul konflik batin. Di satu sisi, nalurinya sebagai ibu menuntutnya untuk selalu berdekatan dengan sang buah hati, namun di sisi lain pandangan sinis opini masyarakat terhadap peran “ibu rumah tangga” membuatnya harus berpikir untuk ‘meninggalkan’ anaknya. Efek selanjutnya, terjadi krisis identitas dalam diri wanita yang menimbulkan efek neurotis yang tidak membahagiakan. Wanita menjadi gamang peran apa yang semestinya ia jalankan. Mengikuti dorongan kodrati dianggap kolot dan ketinggalan zaman, menuruti tuntutan budaya modern malah tidak membahagiakan.

Sebenarnya, bagi seorang muslimah, tidak harus terjadi konflik batin semacam itu bila ia mau mengimani secara serius petunjuk-petunjuk Allah Swt. Bukankah sejak dahulu Allah menyerukan, Dan tinggallah kalian (para wanita) di rumah-rumah kalian dan janganlah ber-tabarruj (menampakkan aurat di hadapan umum) seperti ber-tabarruj-nya wanita Jahiliyah dahulu….(QS Al-Ahzâb [33]:33). Secara implisit Rasulullah Saw. pun menyatakan, “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya….Seorang ibu akan dimintai pertanggungjawaban atas rumahnya…” (HR. Muslim).

Sejak awal Islam sangat menghormati peran wanita sebagai ibu rumah tangga. Tidak ada secuil pun dalil yang mengecilkan perannya sebagai home maker. Bahkan, peran-peran domestik perempuan: menjadi istri, menjadi ibu, menjadi pendidik anak-anaknya, dan menjadi pengurus rumah tangga dipandang sebagai kewajiban pertama dan utama yang harus dijalankan perempuan. Tentu Islam melatakkannya bukan sebagai posisi yang lebih rendah dibanding posisi laki-laki yang mesti lebih banyak berperan di sektor publik. Sekalipun posisinya domestik, di dalam rumah, Islam menampatkannya sejajar dengan peran publik laki-laki. Masing-masing hanya dibedakan dalam perannya, bukan dalam nilainya. Sebuah perbedaan peran yang didesain sedemikian rupa oleh Allah Swt. agar sesuai dengan kodrat masing-masing.

Hal lain yang harus digarisbawahi, dengan adanya kewajiban di atas tidak harus diartikan bahwa wanita sama sekali tidak boleh berperan di luar peran domestiknya. Peran domestik wanita jangan diletakkan berseberangan dengan peran publik, tapi harus diletakkan sebagai prioritas. Artinya, selama kewajiban wanita sebagai ibu rumah tangga dapat terpenuhi, maka dalam batas-batas tertentu wanita boleh berperan di luar rumahnya. Inilah struktur adil yang oleh Ratna Megawangi dalam bukunya, Membiarkan Berbeda? Sudut Pandang Baru tentang Relasi Gender (Mizan, 1999) disebut “keharmonisan sosial dalam struktur hierarkis”. Semoga dengan ini para ibu rumah tangga—yang telah tepat memilih perannya—semakin percaya diri menghadapi zaman modern yang semakin kering dari “kasih” dan “cinta”. Wallâhu a‘ lamu bi al-shawwâb

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here